sektor pariwisata Bali di era global saat ini

Keberadaan pariwisata sebagai penggerak utama perekonomian Bali menjadikan industri keramahtamahan (hospitality) mempunyai peran yang sangat strategis. Namun semua pihak harus memiliki pemahaman komprehensif tentang kepariwisataan, sehingga bermanfaat sebesar-besarnya bagi kesejahtaraan bangsa secara merata dan tetap menjaga kelangsungan sumber daya yang ada agar bermanfaat bagi generasi mendatang.

Kebudayaan adalah esensi kehidupan bangsa. Mengenal kebudayaan bangsa berarti mengenal aspirasinya dalam segala aspek kehidupannya sedangkan pariwisata adalah keseluruhan gerakan manusia yang melakukan perjalanan atau pesinggahan sementara dari tempat tinggalnya ke suatu atau beberapa tempat tujuan di luar lingkungan tempat tinggalnya yang didorong oleh beberapa keperluan atau motif tanpa bermaksud mencari nafkah tetap.

Oleh karena itu masalah kebudayaan dan pariwisata menjadi sangat menarik, terutama dalam era globalisasi yang telah memasuki seluruh penjuru dunia dalam bidang politik, ekonomi, sosial budaya dan komunikasi. Bukan negara-negara yang berkembang dengan budaya etnisnya yang menonjol, tetapi juga negara-negara maju pun menghadapi tantangan-tantangan baru, meskipun integrasi nasional mereka sudah mantap.

Mereka mencari jalan keluar untuk mengatasi ekses-ekses negatifnya. Gobalisasi merupakan gejala yang tidak dapat dihindarkan, tetapi sekaligus juga membuka kesempatan yang luas. Gejala ini mulai menonjol sejak awal abad ke-20 dan mengakibatkan banyak hilangnya keaslian watak dan kemandirian budaya bangsa-bangsa. Globalisasi disebabkan oleh kemajuan-kemajuan Iptek, terutama di bidang teknologi komunikasi yang membawa dunia saling berdekatan dan mudah berkomunikasi melalui berbagai media. Yang paling berpengaruh adalah perkembangan dari dunia pertelevisian.

Bali sebagai bagian dari Indonesia, pulau yang kecil tapi amat terkenal di dunia, berkat kebudayaanya melalui komunikasi pariwisata, tak dapat menjauhkan diri dari arus globalisasi ini. Bahkan kelihatannya Bali makin intensif berhubungan dengan perkembangan dunia kepariwisataan yang diakibatkan oleh kemajuan teknologi komunikasi itu sendiri. Masalahnya sekarang apa yang harus dilaksanakan untuk menghadapi tantangan di bidang kebudayaan dan pariwisata Bali sehubungan dengan terjadinya globalisasi tersebut?.

Persoalan menyangkut kepariwisataan sampai kapanpun selalu menarik dibicarakan. Menarik, mengingat, disadari atau tidak, pariwisata akan hadir selamanya, selama manusia hadir dimuka bumi ini. Tak seorangpun penghuni planet bumi yang berjuluk manusia ini luput dari kegiatan yang namanya wisata, rilek atau santai. Kita sisadari atau tidak dalam hidup ini pasti pernah menjadi turis atau paling tidak menjadi pelancong. Dengan demikian berarti kegiatan wisata bukan semata monopoli orang kaya apalagi orang kulit putih atau kulit kuning. Sementara masyarakat masih menganggap bahwa pariwisata adalah semata-mata bisnis atau urusan mereka yang berkecimpung pada bidang pariwisata seperti hotel, biri perjalanan, restaurant atau atraksi wisata. Mereka lupa dengan hadirnya pariwisata pembangunan menjadi semakin pesat mengingat pariwisata mendatangkan pemasukan cukup besar kepada daerah maupun negara. Mereka lupa bahwa pariwisata memungkinkan adanya pembukaan lapangan pejkerjaan baru dalam jumlah yang cukup besar.

Sebagai pusat pariwisata yang membuat kebudayaan Bali harus selalu mengalami pertemuan-pertemuan dengan berbagai kebudayaan, maka pembinaan kebudayaan lokal harus dilakukan secara terus menerus. Yang lebih penting, jangan sampai ada gejala masyarakat Bali diasingkan dari lingkungan kebudayaannya sendiri. Karena hal ini akan dapat membawa akibat buruk , seperti misalnya terjadi erosi kebudayaan yang dipaksa oleh kemiskinan penduduknya.

Tiap-tiap program pembangunan hendaknya selalu berkaitan dengan potensi dasar yang dimiliki oleh masyarakat Bali, yakni kebudayaan yang bernapaskan agama Hindu. Dan mengembangkan dinamika masyarakat daerah ini sangat efektif kalau dilakukan lewat lembaga-lembaga tradisional, sehingga mereka mampu dengan cepat menyesuaikan nilai-nilai baru yang hendak dikambangkan dalam menyongsong era globalisasi.

Dalam beberapa hal telah mencapai tujuannya. Pertama semua masyarakat telah mengenal kekayaan seni budayanya sendiri yang tiap-tiap tahun dipamerkan melalui prosesi, pergelaran dan pameran-pameran. Pariwisata dapat menyaksikan pertunjukan-pertunjukan seni yang bermutu pada waktu pesta seni berlangsung. Yang jarang mereka akan dapat melihatnya dalam kesempatan biasa dan demikian juga merupakan media komunikasi melalui seni yang sangat berharga. Dan masyarakat sendiri mendapat kesempatan menyaksikan seninya sebagaimana yang dikehendaki, isinya, ceritanya dan sebagainya, bahkan dalam bentuk yang cukup memberi rasa kebanggaan pada mereka. Masyarakat dapat melihat keberadaan seninya sendiri dalam dunia yang makin terbuka dan makin lebar.

Dalam hubungannya dengan Pariwisata dapat dikatakan bahwa antara pariwisata dan kebudayaan telah berkembang satu pola interaksi yang bersifat dinamik dan dinamika itu ternyata tidak hanya bergerak secara horisontal tetapi juga vertikal, dalam arti kebudayaan mampu meningkatkan Pariwisata dan Pariwisata mampu meningkatkan Kebudayaan serta dalam dinamika vertikal dalam kebudayaan secara jelas kentara potensi kebudayaan Bali dalam wujud yang luwes, adaptatif dan kreatif tanpa kehilangan identitasnya sendiri

Leave a comment

Design a site like this with WordPress.com
Get started